Senin, 12 Januari 2015

cerpen ku



Kekuatan Cinta
By; fhpororo_

Aku adalah seorang siswa yang tergolong anak pendiam. Namaku Anjanie. Aku tipe anak yang cuek terhadap temen cowok di sekolahku, tapi tidak dengan Ariel, dia adalah salah satu teman cowok yang dekat denganku. Entah mengapa aku nyaman bersamanya, saat aku ada masalah aku selalu curhat kepada dia dan dia juga selalu setia mendengar setiap cerahan hati ku. Awalnya aku tidak punya perasaan yang special melebihi perasaan terhadap sahabat, namun setelah aku masuk SMA ku rasakan ada perasaan yang lebih terhadapnya, rasa resah saat sehari saja tak mendengar kabarnya. Untungnya aku dan dia diterima di satu sekolah yang sama, jadi masih ada waktu buat aku dan dia selalu bertemu setiap harinya.
Pagi itu seperti biasa Aku dan Ariel berjanjian untuk berangkat bareng.
ayoo dong Nie, kamu lama bener deh” kata Ariel menyambut langkahku menghampirinya.
iya Riel, sabar dong..”
“iya deh, ayoo berangkat
Perjalan menuju ke sekolah aku dan Ariel bersenda gurau menceritakan apa aja sampek kita kehabisan bahan untuk dibicarakan.
Hari itu disekolah ada pensi menyambut siswa-siswi baru, aku dan Ariel duduk di bawah pohon beringin di taman depan kelasku. Seperti biasa kita bercanda sembari mendengar musik yang di tampilkan oleh teman-teman, saat itu ku dengar lantunan musik miliknya Gaby ‘tinggal kenangan’ detik itu juga kami berhenti tertawa, hatiku bergetar memaknai dari setiap lirik lagu itu. Tak terasa mata ku sudah memancarkan kristal-kristalnya yang bisa kapan saja menetes mebasahi pipiku jika tak ku bendung. Lalu ku rasakan ada mata yang memandangiku sedari tadi, tak salah lagi, Ariel orang yang memandangiku. Ternyata apa yang dia fikirkan sama dengan yang ku fikirkan, dia juga menghayati makna dari setiap lirik lagu itu, sungguh menyentuh hati ini. Aku takut kalau saja aku akan kehilangan dia sebelum dia tau perasaanku yang sebenarnya, detik itu juga terasa ada yang menyentuh tangan ku dan mencoba untuk menggenggamnya. Ariel.. ohh Tuhan, dia sekarang menggenggam tanganku dengan penuh perasaan dan mata kami tetap tak perpaling satu sama lain.
“ Anjanie.. ada sesuatu yang memang sudah saatnya aku utarakan ke kamu. Sudah lama aku ingin sekali mengatakan bahwa aku menyayangimu lebih dari sahabat” ucap Ariel, itu membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Aku tak mampu berucap apa-apa, aku tak menyangka Ariel mempunyai perasaan itu.
“Anjanie.. maafkan aku karena aku mempunyai perasaan ini terhadapmu” “bicaralah Anjanie, jangan kamu terdiam” katanya sontak membuatku tersadar untuk segera menanggapinya.
“Ariel.. sesungguhnya apa yang kamu rasa tak ubah halnya dengan yang ku rasa, aku mempunyai perasaan yang sama denganmu. Aku merasakannya setelah kita masuk SMA dan aku memendamnya karena aku tak ingin menodai persahabatan kita”
“aku mengerti Nie, ku harap kita bisa tetap bersama selamanya”
Setelah kegiatan pensi di sekolah itu kini aku dan Ariel lebih dekat, bahkan sangat dekat. Ariel selalu menemaniku kemana saja aku ingin pergi. Aku tidak tau hubungan apa yang terjalin di antara kita, hanya saja aku lebih merasa nyaman karena sekarang di antara kita sudah saling mengetahui perasaan masing-masing. Ariel tidak pernah memintaku untuk menjadi kekasihnya dan aku pun juga tidak pernah mengungkit-ungkit hal itu ketika kita jalan bersama atau pun sedang mengobrol lewat televon.
Kini kami sudah lulus SMA, dan hubungan kami semakin jauh. Orang tua dari masing-masing kami telah mengetahui semua tentang hubungan kami, mereka sangat mendukung hubungan kami. Aku bahagia sekali, sekarang aku dan Ariel memutuskan untuk menjalani hubungan serius. Tak lama setelah keputusan itu Ariel dan keluarganya datang kerumah ku, sungguh tak ku sangka Ariel melamarku. Dia ingin menjadikanku pendamping hidupnya.
Hari-hari ku jalani bersama Ariel dengan teramat bahagia, malam itu Ariel mengajakku untuk pergi melihat sunset di padang ilalang, itu tempat favorit kami dulu semasa SMP, kita menghabiskan waktu disana mengenang masa-masa kami dulu, dan Ariel terlihat sangat menikmati kebersamaan kami waktu itu. Aku bahagia karena sekarang aku sudah bisa bersanding dengan Ariel.
“Anjanie..” sapanya memulai percakapan.
“iya kak,ada apa ?”jawabku dengan melemparkan senyum kepadanya. Aku sekarang memanggilnya kakak.
“siapkah kamu ku persunting?” tanya Ariel.
“aku siap kak, aku sudah siap lahir batin” jawabku tegas.
“semoga aku bisa membahagiakanmu ya Nie, aku sangatlah menyayangimu”
“apa maksut kamu kak? Kita akan bahagia sama-sama dan kalaupun susah kita juga akan sama-sama” ucapku menjawab pernyataan dari Ariel.
“aku takut Tuhan tak mengizinkan ku untuk membahagiakan mu” dia berkata dengan tatapan yang penuh kegelisahan.
“disini aku ada untukmu kak, aku yakin Tuhan tau isi hati setiap insan-Nya. Kenapa kamu ngomong gini?” aku menangis saat itu juga.
“hmm iya.. yang pasti aku amatlah sangat menyayangimu Anjanie” ujarnya sambil mendaratkan kecupannya di keningku. “ayo ku antar pulang, nanti mama papa nyariin kamu lagi” lanjutnya sambil menghapus air mata di pipiku.
Malam itu aku tak bisa tidur mengingat apa yang baru saja Ariel utarakan, tiba-tiba aku menangis dalam sunyi malam itu. Ada rasa takut kehilangan dia, takut yang teramat takut ku rasakan, aku terus menangis sampai aku terlelap.
Hari sudah berganti hari, aku sudah bisa melupakan ucapannya. Namun bebarapa terakhir ini Ariel tidak lagi ke rumah ku untuk mengajakku keluar atau sekedar menengokku. Telvon dari ku juga jarang di jawab olehnya, kabar darinya tidak lagi ku dapatkan. Dia menghilang, rasa gelisah dan khawatir mulai hinggap dalam hatiku. Aku takut terjadi hal buruk terhadapnya, ku coba main ke rumahnya untuk menengoknya. Apa yang ku dapat ternyata di rumah tak ada siapa-siapa, aku benar-benar kalut saat itu, aku hilang arah, aku tak dapat berfikir jernih lagi. Aku menelvonnya berkali-kali namun tak ada jawaban hingga aku hampir putus asa, hingga akhirnya telvonku di jawab juga
“hallo kak, kamu dimana? Aku khawatir banget ni, kamu sekarang dimana aku jemput kamu ya tunggu aku” kataku tanpa menunggu respon dari dia.
“kamu kesini sekarang, Ariel dalam keadaan kritis” seseorang berkata dalam telvon itu, aku shock tak mampu berkata meski sebatas bertanya siapa yang tadi berbicara denganku, aku langsung berangkat menuju rumah sakit. Sampai disana aku di sambut oleh mamanya kak Ariel yang sudah tak mampu meneteskan air matanya lagi. “Ariel menunggumu di dalam” katanya sambil memapahku menuju kamar.
“Ariel, apa yang sebernarnya terjadi? Adakah yang kamu sembunyikan dariku??” ujarku menintrogasinya
“maafkan aku Anjanie, aku tak dapat membahagiakanmu lagi. Aku mencintaimu i love you sayang” ucapan terakhir darinya karena setelah itu dia telah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya. Aku menangis sejadi-jadinya di atas tubuh calon suamiku yang kini terlihat pucat dan dingin, aku melepas semua yang ada dalam hatiku. “kak, bangun !! kenapa kamu tinggalkan aku dalam keadaan seperti ini, apa kamu lupa kalau kita akan sama-sama mewujudkan semua impian kita. Kak jawab aku, bilang ke aku kalau kamu hanya terlelap. Kak Ariel .....!!!!!!!” tak mampu lagi aku berkata, tak tau lagi apa yang aku rasakan, hatiku hancur bak tersambar petir. “sudah nak Anjanie, Ariel telah pergi. Maafkan semua kesalahannya nak. Ariel mengidap kanker hati stadium akhir, dia tidak ingin menceritakan ini karena dia tidak ingin kamu kecewa karenanya” ucap mama sambil merangkulku.
“ini lebih dari sekedar mengecewakanku ma, aku hancur sekarang!!” aku membentak mama yang tetap merangkulku. Sore itu jenazah Ariel di makamkan dan aku tetap tak dapat menghentikan tangisanku, aku menyesal kenapa aku sahabatnya dan calon istrinya yang tidak mengetahui keadaan Ariel yang sudah separah ini. Hari-hari aku lalui dengan lamunan dan tangisan, aku memikirkan Ariel setiap hari dan rasanya aku ingin menjemputnya. Aku depresi dan aku rapuh tanpa Ariel di sampingku. Tak akan yang ada menggantikan Ariel dalam hidupku.

sekian terima kasih 

follow me IG : farariidaa_

aku masih menunggu



Aku Masih Menunggu


By; fhpororo_

 

Penantian ini sungguh menyiksaku. Aku yang sudah lama menunggu akan datangnya cinta sejati di tengah-tengah kehidupanku, aku yang menunggu berkas-berkas indah yang akan menghiasi setiap ingatanku, namun kini penantianku akan segera aku akhiri.

Selama ini aku hanya menunggu dan menunggu tanpa tau apa dan siapa yang akan datang. Aku terlalu takut untuk memulai cinta, takut untuk memberikan kesempatan pada hidup ini untuk menjalani sebuah hubungan special dengan orang lain. Meskipun aku sudah cukup pantas untuk mengenal sebuah hubungan special namun aku yang berasal dari desa tak pernah berani bercakap-cakap lebih lama kepada orang selain dari keluargaku, termasuk orang yang terlalu pendiam dan tertutup. 

Ibu dan ayahku pernah mengatakan keluhannya kepadaku, mereka takut aku akan menjadi perawan tua karena selama ini aku tak pernah terlihat dekat dengan pria manapun. Mereka ingin melihat aku tersenyum bahagia dengan pria yang berada disampingku. Ayahku ingin aku bisa segera mendapat pendamping yang mampu menjagaku dikala aku pergi ke pasar atu sekdar jalan-jalan saja. Saat mereka mengutaran isi hatinya itu aku hanya mampu menangis seraya berkata kepada beliau, “AKU MASIH MENUNGGU”.

Betapa tidak berbaktinya aku sebagai seorang anak, aku tidak mampu menuruti kemauan kedua orang tuaku yang selama ini ada untuk aku, ada di sampingku. Setiap kali kedua orang tuaku membahas hal itu, aku selalu saja pergi keluar ke kebun teh hanya untuk menghirup udara segar yang ku harapkan mampu menjernihkan fikiranku yang sedang kacau. Dalam shalatku aku selalu berdoa kepada Sang Khaliq untuk kebaikan masalah percintaanku, sebenarnya banyak pemuda yang tertarik untuk meminangku atau sekedar bermain-main dengan ku, namun itu yang aku tidak inginkan, aku tak ingin bermain cinta, yang aku inginkan aku ingin menunggu pemuda yang tepat yang sudah di takdirkan untuk ada dalam hidupku. 

Entah sampai kapan aku akan terus menunggu, aku yakin Tuhan mendengar setiap doaku, Tuhan tau apa isi hatiku, dan Tuhan akan berikan yang terbaik untuk aku.

 

Follow me IG : Farariidaa_

Kesan Jumpa Pertama_

  Sadarku akan kesan diawal perjumpaan kita waktu itu Saat kedua insan bertatap dan disertai degupan dalam dada Namun aku tak pernah men...