Senin, 22 April 2019

Novel  -Love In Silence "Anjani"-




Love In Silence
“Anjani”





Untukmu yang namanya selalu 
Terlangitkan dalam doa-doaku



Aku yang tak ubahnya seperti manusia lainnya, manusia yang Allah ciptakan dengan anugrah akal dan juga perasaan. Aku tak ubahnya seperti manusia lainnya, yang ingin bertemu dan bersanding dengan seseorang yang memang telah Allah kirimkan untuk menemui ku, seseorang yang memang telah Allah persiapkan untuk bersanding dengan ku. 

Mentari pagi menyapa aku yang sedang terduduk di teras depan rumah. Embun yang berpadu dengan udara khas pagi hari sejenak memberikan ketenangan yang amat menyegarkan. Sejenak aku terbawa oleh suasana ini, perlahan namun pasti aku mulai terbawa oleh lamunan akan kejadian kala itu. Kala aku sedang berjalan-jalan di Alun-alun kota. Aku yang saat itu duduk santai mulai melihat orang yang lalu lalang di Alun-aluna hingga detik itu tiba. Saat aku melihat seorang gadis dengan jilbab biru yang sangat mencuri perhatianku. Dia terlihat  anggun dengan senyuman manis yang sangat mempesona. Akan ku akui saat itu seperti ada yang berdegup kencang dalam dada ku.ada rasa aneh yang menjarah tubuhku. 

Aku tidak ingin berlarut-larut memikirkan dia, namun aku tak dapat memungkiri betapa dia sangat memberikan rasa yang berbeda dalam diriku. Setelah pertemuan itu terkadang bayangnya hadir memenuhi fikiranku, membawaku bersenang-senang dengannya meski dalam khayalanku sendiri.  Seketika suara kicauan burung membuyarkan khayalanku terhadap sosok yang bahkan belum ketahui namanya. Menyadari hal itu aku beristighfar lirih. Mengakui kesalahanku yang telah menikmati khayalkanku terhadap seorang gadis yang belum menjadi mahromku. 

Hari-hari berlalu seperti biasanya, meski dengan rasa bergemuruh yang terkadang mengusik hati. Sejak pertemuan itu aku sempat beberapa kali berpapasan dengannya di kantor karena memang ternyata kita satu kantor. Aku baru bekerja di sebuah bank syariah di kota Jember.
Seiring dengan berjalannya waktu akhirnya saya tahu bahwa gadis itu bernama Anjani. “Anjani”, itulah nama seorang gadis yang selama ini diam-diam telah memberikan sebuah rasa yang sebelumnya belum pernah saya rasakan. Dari salah seorang teman kerjaku, aku akhirnya juga mengetahui bahwa dia adalah anak seorang Kyai Pondok Pesantren di kota Jember. Aku tidak mengerti kenapa rasa ini singgah dalam diriku dan terasa semakin menguat seiring waktu.  
Mungkinkah dia orangnya itu? 

Dengan menguatnya perasaan ini, aku yang tidak berani untuk bertegur sapa dengannya memilih untuk diam, karena aku tahu bahwa untuk menatap matanya pun aku tidak berani. Diam-diam aku memperhatikan dia. Terkadang aku juga mendapat informasi dari teman kerjaku. Salah satu informasi yang aku dapatkan adalah dia juga tengah mencari seorang imam, karena ayahnya ingin segera melihat putri sulungnya menikah, melaksanakan ibadah terpanjang dan menyempurnakan sepauruh agamanya. 

Aku memang menyukai Anjani dan sempat memikirkan untuk mengajaknya berta’aruf, namun aku tidak ingin menjalani sesuatu tanpa ridho dari Allah. Diam-diam aku bertanya kepada beberapa ustadz-ustadz yang dulu pernah membimbingku sewaktu aku di Pondok Pesantren. Aku bertanya banyak hal tentang sebuah rasa dan tentang gadis itu. Semua ustadz yang aku datangi memberikan saran untuk aku menjalankan sholat istikharah dan berdiskusi dengan kedua orangku. 

Setelah pulang dari Pondok Pesantren dan setelah mendengar saran dari para ustadz. Aku mencoba untuk membicarakan hal ini dengan orang tuaku. Mereka terkejut karena memang ini pertama kalinya aku membicarakan seorang gadis. Mereka bertambah terkejut ketika mereka mendengar bahwa aku berniat untuk menikah dengan gadis itu. Dengan masih terkejut orang tua ku menanyakan beberapa hal mengenai gadis itu dan bagaimana aku mengenalnya. 

Setelah pembicaraan dengan kedua orang tuaku dan mendengarkan bahwa mereka akan senantiasa mendukung apapun yang menjadi pilihanku namun mereka juga memberikan pesan padaku. 
“apapun yang menjadi pilihanmu in shaa Allah kami akan selalu mendukungnya nak. Namun jangan lupa agar selalu istikharah sebelum kamu mengambil sebuah pilihan”. Kata ibu menasehati aku. 
Pukul 02.00 WIB seperti biasa aku terbangun dan melaksanakan sholat malam. Hari ini berbeda, karena aku mulai melaksanakan sholat istikharah. Memohon petunjuk kepada Allah tentang arti sebuah pertemuan singkat yang diiringi dengan sebuah perasaan yang menguat hingga detik ini. Aku tidak ingin gegabah dalam bertindak. Aku yakin  bahwa Allah selalu punya rencana dibalik setiap peristiwa, bahwa Allah selalu punya jalan untuk mempersatukan dua insan yang memang telah dia takdirkan. Tidak terburu-buru namun akan dipersatukan dalam keadaan dan di waktu yang tepat. Bukan menurut kita tapi menurut-Nya. 

#bersambung...

Kesan Jumpa Pertama_

  Sadarku akan kesan diawal perjumpaan kita waktu itu Saat kedua insan bertatap dan disertai degupan dalam dada Namun aku tak pernah men...