Kamis, 03 Maret 2016

kesadaran




Kesadaran Diri

by: Fhpororo_


Semua ceritaku ini berawal setelah aku lulus SMP dan masuk ke SMA.
Saat melanjutkan ke SMA aku dituntut untuk jauh dari orang tua dan keluargaku, aku bersekolah di SMA MUH 2 --- karena itulah aku jauh dari keluarga.
Dalam keadaan seperti ini aku merasa ada rasa nyaman dan tidaknya. Rasa nyamannya itu kalau pas pergi maen, orang tua lebih banyak enggak taunya, iya kan ..??? engaak nyamannya itu kalau pas kehabisan duit atau ada sesuatu hal. Tapi itu yang ada dalam fikiranku dulu waktu aku pertama di sini, sekarang beda lagi.
Sejak SMP kelas 3 memang hubungan aku sama ayahku sedikit ada jarak, karna mungkin beliau sibuk dan aku juga egois dengan urusanku sendiri, dan sekarang di tambah lagi aku jauh dari beliau dan jarang ketemu. Kalau aku pulang ke rumah kadang ketemunya ya pas malem minggunya, waktu buat ngobrol pun terbatas. Namun semua yang dikatakan ayah aku pasti aku ingat meskipun itu hanya gurauan saja.
Beliau sering menyindir saya secara langsung, waktu itu...
“besok kamu berangkat sama siapa?? Bapak enggak bisa nganter soalnya masuk pagi persiapan lomba volly,” kata ayahku.
“belum tau pap, coba aku sms anak-anak dulu,”
“trus minta uang berapa?,”
“seperti biasa aja,”
“hmm, disana kamu makan apa aja Ra?” tanya mamiku. Belum juga aku menjawab eeee sama papi udah di jawab papi aja.
“waaa kalau fara ya pasti makan enak terus itu Dek, gak ngelingi seng nang omah mangan opo???” ayah
Itu awal dari kesadaran di diriku ini. Papiku memang orang yang cuek, tapi sebenernya aku tau kalau beliau peduli sama aku. Sejak itu aku selalu intropeksi diri, setiap mau beli apa-apa aku ingat papi aku, aku ingat betapa tidak berbaktinya aku terhadap kedua orang tuaku. Aku ingat pengorbanan papi aku yang rela telat masuk sekolah demi mengantar aku ke kostan, saat beliau bekerja terus untuk aku. Aku ingat pengorbanan mamiku yang selalu bangun lebih pagi saat demi mebangunkan aku untuk siap-siap berangkat sekolah, yang mau menyipkan makanan buat aku sebelum aku berangkat ke kostan. Sedih ketika mengingat semua pengorbanan mereka. Aku bisa sekuat ini karena mereka, terutama papiku, beliau adalah motivasi hidupku. Beliau secara tidak langsung memberikan pelajaran hidup untuk ku. Pesan-pesan beliau tertanam dalam hati ku, ucapan dan sikap beliau terhadapku terekam selalu dalam fikiranku. Beliau motivasiku dalam menyikapi hidup di dunia fana ini, aku ingin mempunyai pendirian seperti beliau yang selalu bertanggung jawab atas ucapannya sendiri. Dalam hati kecilku bersorak mengatakan “bahwa aku beruntung bisa hidup di tengah keluarga ku ini.”

Amanat; “hayati setiap ucapan dan sikap kedua orang tuamu, karena di dalamnya mengandung sejuta arti penting untuk kita sebagai pelajaran hidup kita saat mereka sudah tak lagi disamping kita.”

Selasa, 16 Februari 2016

puiSi


=>

=>

=>

 


MUHAMMADIYAH



 



Angin masih dengan kelembutannya



Matahari masih dengan teriknya



Masih saja seperti sedia kala



Yang senantiasa menyapa



Disini di SMA Muhammadiyah



Aku mencari tujuan dan arah



Dimana ilmu dan agamaku



Dapat terpadu menjadi satu



Ribuan senti jarak yang ku tempuh



Dan banyak rintangan yang ku labuh



Untuk mencari ilmu disana



Di SMA Muhammadiyah tercinta

Kesan Jumpa Pertama_

  Sadarku akan kesan diawal perjumpaan kita waktu itu Saat kedua insan bertatap dan disertai degupan dalam dada Namun aku tak pernah men...