Kesadaran Diri
by: Fhpororo_
Semua ceritaku ini berawal setelah aku lulus
SMP dan masuk ke SMA.
Saat melanjutkan ke SMA aku dituntut untuk jauh
dari orang tua dan keluargaku, aku bersekolah di SMA MUH 2 --- karena
itulah aku jauh dari keluarga.
Dalam keadaan seperti ini aku merasa ada rasa
nyaman dan tidaknya. Rasa nyamannya itu kalau pas pergi maen, orang tua lebih
banyak enggak taunya, iya kan ..??? engaak nyamannya itu kalau pas kehabisan
duit atau ada sesuatu hal. Tapi itu yang ada dalam fikiranku dulu waktu aku
pertama di sini, sekarang beda lagi.
Sejak SMP kelas 3 memang hubungan aku sama
ayahku sedikit ada jarak, karna mungkin beliau sibuk dan aku juga egois dengan
urusanku sendiri, dan sekarang di tambah lagi aku jauh dari beliau dan jarang
ketemu. Kalau aku pulang ke rumah kadang ketemunya ya pas malem minggunya,
waktu buat ngobrol pun terbatas. Namun semua yang dikatakan ayah aku pasti aku
ingat meskipun itu hanya gurauan saja.
Beliau sering menyindir saya secara langsung,
waktu itu...
“besok kamu berangkat sama siapa?? Bapak enggak
bisa nganter soalnya masuk pagi persiapan lomba volly,” kata ayahku.
“belum tau pap, coba aku sms anak-anak dulu,”
“trus minta uang berapa?,”
“seperti biasa aja,”
“hmm, disana kamu makan apa aja Ra?” tanya
mamiku. Belum juga aku menjawab eeee sama papi udah di jawab papi aja.
“waaa kalau fara ya pasti makan enak terus itu
Dek, gak ngelingi seng nang omah mangan opo???” ayah
Itu awal dari kesadaran di diriku ini. Papiku
memang orang yang cuek, tapi sebenernya aku tau kalau beliau peduli sama aku.
Sejak itu aku selalu intropeksi diri, setiap mau beli apa-apa aku ingat papi
aku, aku ingat betapa tidak berbaktinya aku terhadap kedua orang tuaku. Aku
ingat pengorbanan papi aku yang rela telat masuk sekolah demi mengantar aku ke
kostan, saat beliau bekerja terus untuk aku. Aku ingat pengorbanan mamiku yang
selalu bangun lebih pagi saat demi mebangunkan aku untuk siap-siap berangkat
sekolah, yang mau menyipkan makanan buat aku sebelum aku berangkat ke kostan.
Sedih ketika mengingat semua pengorbanan mereka. Aku bisa sekuat ini karena
mereka, terutama papiku, beliau adalah motivasi hidupku. Beliau secara tidak
langsung memberikan pelajaran hidup untuk ku. Pesan-pesan beliau tertanam dalam
hati ku, ucapan dan sikap beliau terhadapku terekam selalu dalam fikiranku. Beliau
motivasiku dalam menyikapi hidup di dunia fana ini, aku ingin mempunyai
pendirian seperti beliau yang selalu bertanggung jawab atas ucapannya sendiri.
Dalam hati kecilku bersorak mengatakan “bahwa aku beruntung bisa hidup di
tengah keluarga ku ini.”
Amanat; “hayati setiap ucapan dan sikap kedua
orang tuamu, karena di dalamnya mengandung sejuta arti penting untuk kita
sebagai pelajaran hidup kita saat mereka sudah tak lagi disamping kita.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar